Pengabdian FKM UG Digelar di Torosiaje, Libatkan 16 Dosen Pendamping & Fasilitator

Pengabdian FKM UG Digelar di Torosiaje, Libatkan 16 Dosen Pendamping & Fasilitator

DAILYPOST.ID, Kampus – Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Gorontalo melaksanakan Pengabdian Kepada Masyarakat di Desa Torosiaje, Kecamatan Popayato, Kabupaten Pohuwato.

Kegiatan satu dari Tri Dharma perguruan tinggi tersebut, berlangsung selama 2 hari sejak Sabtu (27/2/2021).

Dosen FKM UG, Franning Deisi Badu, S.KM.,M.Kes mengatakan, Pengabdian FKM UG di Torisiaje melibatkan 16 dosen pendamping maupun fasilitator. “Sebenarnya ada dua dharma, penelitian dan pengabdian masyarakat. Ini melibatkan 16 dosen. Yakni sebagai dosen pendamping dan sebagai fasilitator,” katanya.

Dalam dasar kependudukan, FKM UG mengkaji kondisi demografi masyarakat. Dalam mata kuliah sosial atropologi, kata Franning, para maasiswa FKM melakukan kajian sesuai kebudayaan di desa setempat. Termasuk suku Bajo yang melekat.

Pengabdian Kepada Masyarakat

“Dalam mata kuliah sosial antropologi kita mengkaji sesuai kebudayaanya, bagaimana adat kepercayaan masyarakat dalam bidang satu masyarakat di bidang kesehatan menanggulangi masalah kesehatan. Nah, di Desa Torosiaje itu kita mengkaji suku. Suku Torosiaje itu etnik bajo, yang memang berbeda dengan adat Gorontalo,” jelasnya.

“Kemarin, kita juga membawa mahasiswa sekitar 50 orang ke sana melaksanakan pengabdian, ada pendataan atau identifikasi masalah tentang kondisi masyarakat di Desa Torosiaje termasuk karakteristik responden dari umur, jenis pekerjaan, pendidikan, jenis kelamin dan ibu hamil jika ada,” sambung Franning.

Selain melakukan kajian, FKM UG juga melakukan survey dan observasi terkait dengan apa saja masalah yang paling tinggi di sana, diantaranya terkait kesehatan lingkungan.

“Terus kegiatan lainnya adalah kita melaksanakan interview atau wawancara terdalam, dengan menggunakan panduan wawancara. Dalam sesi wawancara itu tentang kita bertemu dengan tokoh-tokoh adat terkait dengan kepercayaan-kepercayaan masyarakat yang mereka bangun. Seperti dalam hal menangani masalah kesehatan, jika ada,” ujarnya.

“Seperti contoh, di sana itu, dulu ketika ada orang sakit tidak pernah minum obat. Mereka percaya bisa disembuhkan dengan air (khusus-red). Jadi, jika ada orang sakit parah, mereka membawanya ke dokter. Tapi itu dulu. Sekarang, Alhamdulillah sudah lebih baik lagi sudah efektif karena sudah dinaungi oleh pemerintah. Artinya masyarakat di sini (Torosiaje) sudah mulai membaik dan sudah mulai menerapkan minum obat jika sedang sakit,” tambah Franning.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *